Berita Istana - Berita Terbaru dan Terpercaya

Pergeseran Nilai Cultural Budaya Pendidikan di Tengah Arus Globalisasi

Pergeseran Nilai Cultural Budaya Pendidikan di Tengah Arus Globalisasi

Senin 24 agustus berita istana Penulis adalah ALWI HILIR S.kom alumnus university mh thamrin

Jakarta. dan anggota IAE (indonesian aproach education)
Ki hajar dewantara pernah memberi peringatan penting mengenai hadirnya zaman kebingungan. Zaman kebingungan ini adalah zaman yang ditandai oleh krisis multidimensi. Ramalan KHD seperti telah nampak di era kita sekarang ini. Pada zaman inilah, kita merasakan ada berbagai arus globalisasi yang begitu deras, dan arus kebudayaan asing yang begitu gencar. Derasnya arus globalisasi dan kebudayaan asing ini sebenarnya sudah hadir semenjak dulu, tetapi, di era sekarang nampak sekali, kita seperti kurang memiliki daya tahan terhadap serangan kebudayaan asing ini. Dalam kehidupan sosial kita misalnya, nampak sekali budaya individualistis lebih ditonjolkan ketimbang budaya gotong royong dan kerjasama.

Dalam sektor pendidikan, kita bisa melihat betapa kita begitu gagap menghadapi globalisasi, kita seperti tak memiliki daya tawar terhadap kebudayaan asing. Lunturnya nilai-nilai kesopanan, krisis karakter, serta sikap dalam belajar menjadi masalah dalam pendidikan kita. Kita seperti kehilangan dan melupakan bahasa daerah kita, kita menjadi lupa dan tak lagi mengenali kesenian tradisional kita, serta tradisi dan kearifan local kita. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan: “Di dalam zaman kebingungan ini seharusnjalah keadaban kita sendiri (cultuurhistorie), kita pakai sebagai penundjuk djalan untuk mentjari kehidupan baru jang selaras dengan kodrat kita dan akan memberikan kedamaian dalam hidup kita. Dengan keadaban bangsa kita sendiri, kita lalu pantas berhubungan bersama-sama dengan keadaan bangsa asing”
Beberapa waktu lalu, Badan Akreditasi Nasional (BAN) Non Formal akan mulai melakukan akreditasi pada Sekolah Satuan Pendidikan (SPK) yang dulu adalah sekolah internasional jenjang PAUD. Hal ini dilakukan berdasarkan Permendikbud nomor 31/2014 tentang kerjasama penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan oleh lembaga pendidikan asing dengan lembaga pendidikan Indonesia.
Hadirnya sekolah dengan label “internasional”, membuat kita semakin yakin bahwa serbuan dan serangan kebudayaan asing di sekolah-sekolah kita sekarang ini semakin meminggirkan identitas nasional dan kebudayaan nasional kita. Kurikulum sekolah asing ini, memang didesain untuk mengenalkan dan mempopulerkan kebudayaan asing. Anehnya, promosi bahasa asing, pertukaran pelajar, sampai pada beasiswa asing semakin diminati oleh orangtua kita sampai pada anak-anak kita sekarang ini.

Masyarakat perkotaan secara identitas memang sudah mengalami pergeseran budaya, sehingga mereka menciptakan budaya sendiri (budaya urban). Mereka tak lagi mengenali budaya asali mereka, pada sisi lain mereka juga menciptakan budaya baru, budaya perkotaan. Keadaan ini membuat orangtua yang tinggal di perkotaan sering mendambakan kebudayaan yang modern. Begitu pula cara pandang mereka dalam memberikan pendidikan bagi putera-puteri mereka. Mereka akan lebih suka terhadap sekolah dengan label internasional dan memberikan pengenalan bahasa asing lebih dini kepada anak-anak mereka.

Tantangan pendidikan nasional kita saat ini memang bertambah rumit. Kita memerlukan cara untuk kembali meyakinkan orangtua kita dan masyarakat kita kepada pendidikan nasional kita. Jangan sampai orangtua dan masyarakat kita justru semakin merasa jauh dan asing, apalagi sinis terhadap kebudayaan kita sendiri.

Pengenalan sejak dini di usia pendidikan dari kecil sampai dewasa perlu dilakukan. Nilai-nilai pendidikan nasional yang erat dengan karakter kemerdekaan, kemandirian dan juga keadaban tidak boleh hilang dalam dunia pendidikan kita. Selain itu, anak-anak kita perlu dikenalkan kembali kepada keebudayan kita sendiri.

Tarian kita, seni music kita, wayang dan aneka kekayaan cultural kita perlu kita gali dan kenalkan kembali kepada anak-anak kita melalui pendidikan. Selama ini, kita sering memisahkan antara kebudayaan dan pendidikan di sekolah kita. Seolah-olah tarian, gamelan dan kesenian tradisional kita adalah pelajaran tambahan dan biasanya dikemas dalam ekstrakurikuler. Padahal, di dalam pendidikan negara asing, pengenalan kepada kebudayaan sudah menyatu dalam kurikulum pendidikan mereka. Sedangkan di negeri kita sendiri, pengetahuan akan kesenian dan kebudayaan daerah hanya berhenti pada soal dan jawaban semata. Di sekolah-sekolah perkotaan, pengenalan terhadapa alam, kehidupan agraris negeri ini justru dikemas dengan kegiatan wisata belajar di sekolah-sekolah mereka.

Mereka nampak senang dan riang kala diajak ke sawah melihat dan menyaksikan petani bekerja di sawah. Padahal, negeri ini adalah negeri agraris, yang mestinya tak jauh dari kosmologi alamnya yang agraris. Itulah secuil realitas pendidikan kita sekarang yang seolah memisahkan unsur kebudayaan kita dari dunia pendidikan kita.

Selama ini, sekolah-sekolah internasional di negeri ini memiliki dampak signifikan terhadap persoalan mentalitet. Kita jadi merasa inlander, kagum dan memuja pendidikan asing dari pada pendidikan kita sendiri. Begitupun ketika kita melihat anak-anak kita menjadi lupa dan kehilangan identitas mereka, melupakan kebudayaan mereka sendiri dan merasa minder dengan kebudayaan asing. Hal ini wajar sebab sekolah asing, atau sekolah yang didesain dengan kurikulum asing memang tak mengajarkan kebudayaan kita.

Biasanya anak-anak kita yang sekolah di sekolah asing pun berdampak kepada sikap dan perilaku mereka. Dengan bahasa asing yang mereka punya, mereka jadi merendahkan atau menganggap rendah teman yang sekolah di sekolah negeri kita.
Persoalan mentalitet ini akan semakin sulit disembuhkkan ketika mereka tak mengenali para pendiri bangsa kita maupun para pahlawan kita yang memiliki akar kuat dan mentalitet yang kuat terhadap kebudayaan asing. Sebut saja Kartini, Sosrokartono, sampai pada Mohammad Hatta atau Sjahrir.

Mereka-mereka ini adalah contoh bagaimana mentalitet selalu dididik dan dilatih untuk tak menjadi hamba bagi kebudayaan asing.

Sehingga ketika mereka selesai menuntaskan studi mereka, mereka tak melupakan kekayaan cultural yang dimiliki bangsa kita.

Realitas globalisasi memang menuntut kita untuk menjadi bangsa yang terbuka dari berbagai aspek termasuk pendidikan.

Tapi alangkah sayangnya ketika keterbukaan kita kepada bangsa asing melalui pendidikan justru membuat generasi kita lupa terhadap nilai-nilai budaya kultural kita dan nilai-nilai nasionalisme di pendidikan kita.

Terkait

Apresiasi Pemkab Malang, KD Menyebutkan Presiden Jokowi Akan Turun Langsung ke Lokasi Gempa Malang

April 25, 2021

Jawa Timur, -Apresiasi Pemkab Malang, KD Menyebutkan Presiden Jokowi Akan Turun Langsung ke Lokasi Gempa Malang. Anggota DPR RI Dapil V Malang Raya Fraksi PDIP yang juga merupakan Diva Indonesia,...

Kapolri: Polri Beri Kekuatan Terbaik Bantu Cari KRI Nanggala 402

April 24, 2021

BALI- Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan, Polri akan memberikan yang terbaik dalam upaya pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 yang hilang di perairan Bali. Saat ini, kata Sigit, Polri...

Terima Uang Sogokan Ratusan Juta Ditresnarkoba Bebaskan AMR Tumbalkan RUS

April 12, 2021

KALTENG - Penangkapan terhadap berinisial RUS oleh Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kalteng, disoal pihak keluarga karena dianggap janggal. ‎ Menurut Triyono, kepada media .........

Presiden Jokowi Resmikan Bandara Toraja

Maret 18, 2021

TORAJA_Dalam kesempatan yang sama, Presiden turut meresmikan secara virtual Bandara Pantar di Nusa Tenggara Timur_ Peningkatan aksesibilitas dan konektivitas transportasi penting artinya untuk...

Diduga Melakukan Selingkuh Oknum Lurah di Mangunan Bantul Digerebek Warganya 

Maret 7, 2021

BANTUL, – Merasa geram dengan perilaku Lurah yang diduga telah melakukan perselingkuhan dengan salah satu warga, malam tadi, Minggu (7/3/2021), sekitar 100 warga dari 6 dusun (cempluk, mangunan,...

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments