Berita Istana - Berita Terbaru dan Terpercaya

Demokrat Sindir Gibran Maju Cawalkot Solo, Sah-Sah Saja, Tapi Tahu Diri Dikit Lah

Demokrat Sindir Gibran Maju Cawalkot Solo, Sah-Sah Saja, Tapi Tahu Diri Dikit Lah

Rabu 22 juli 2020 oleh : tim berita istana 

Solo, – Ini dimulai dari sebuah survei, yang menyebut 55 persen responden memilih Gibran jika pilkada dilaksanakan sekarang Juni 2020. Di sisi lain, Purnomo hanya dipilih 36 persen responden.

Dalam survei tersebut, Purnomo dianggap oleh masyarakat kurang banyak turun ke lapangan untuk bertemu dengan mereka. Beda dengan Gibran yang lebih masif, terjun langsung ke lapangan mengikuti gaya Jokowi.

Demokrat menilai ada yang kurang tepat dengan survei tersebut, dan secara tidak langsung menyindir kalau Gibran adalah anak seorang presiden.

Banyak yang mengatakan, dicalonkannya Gibran sebagai calon wali kota Solo adalah bentuk dari dinasi politik atau nepotisme. Saya jelaskan soal ini nanti.
.
.
Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Teddy Gusnaidi heran dengan pihak yang menyindir langkah Gibran. Dia menegaskan bahwa tidak ada larangan anak presiden berpolitik. Sebab siapapun berhak berpolitik.

“Emang ada ya larangan anak Presiden tidak boleh berpolitik? Sejak kapan hak setiap warga negara untuk dipilih dan memilih dilarang di negeri ini?,” kata Teddy menggunakan akun Twitter-nya.

Beberapa orang menilai langkah Gibran merujuk pada dinasti politik, mengingat dia mencalonkan diri sebagai calon wali kota saat Jokowi masih menjadi presiden.

Mereka menganggap itu menyalahi etika politik, tidak sesuai dengan keadilan sosial dan beradab.

Sebenarnya saya merasa, tidak begitu setuju jika Gibran tiba-tiba terjun begitu saja ke dunia politik. Hal ini mengingatkan saya akan AHY yang mendadak, tidak ada angin tidak ada hujan langsung dicalonkan sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Padahal latar belakang dan pengalaman politik masih sedikit.

Bedanya, AHY atau SBY seolah tidak mikir, masa sekelas AHY waktu itu langsung dicalonkan sebagai gubernur ibu kota?

Kenapa tidak sekalian saja dicalonkan sebagai presiden RI?

Setidaknya Gibran memulai dari kota bukan ibukota negara atau pun provinsi. Mulai dari level wali kota, bukan langsung ngotot mau jadi gubernur, selevel ibu kota pula.

Tapi ini demokrasi, di mana Gibran tidak memaksa siapa pun untuk memilihnya nanti. Tidak suka ya tinggal memilih yang lain.

Soal dinasti politik, apa yang dilakukan Gibran bukan aji mumpung mengarah ke sana. Yang namanya dinasti politik itu, bapaknya presiden, Gibran ditarik jadi menteri, anak keduanya jadi komisaris salah satu BUMN, anaknya ketiga diangkat sebagai stafsus milenial, istrinya dijadikan sebagai dirut salah satu BUMN, dan keluarga (famili 100) semuanya diberikan kursi politik strategis. Itu baru dinasti politik, tidak ada kesempatan untuk menganulir lewat pilkada atau pemilu.

Contoh lainnya itu seperti Kerajaan Inggris, turun temurun memiliki kekuasaan tanpa ada pemilu.

Charles bisa jadi pangeran Inggris tanpa pemilihan. Gibran tidak akan bisa menjadi kepala daerah jika tidak mengikuti pemilihan dan tidak dipilih rakyat.

Nepotisme?

Apakah selama Jokowi menjabat sebagai wali kota, gubernur dan presiden, dia pernah bagi-bagi jabatan ke anak atau istrinya?

Bahkan dulu, putrinya Kahiyang Ayu tidak lulus tes CPNS. Kalau mau nepotisme, Jokowi bisa saja lakukan sesuatu dan meloloskan anaknya, kan?

Tak ada pemaksaan dalam memilih. Tidak suka atau tidak sreg dengan Gibran, tidak perlu pilih dirinya. Kecuali dipaksa memilih, barulah boleh protes. Apakah diancam jenazah kubur diri sendiri kalau tidak memilihnya?

Apakah ada ancaman tidak dapat sertifikat kavling surga kalau tidak memilihnya? Kalau tidak ada, ya sudah.

Kalau ditanya, saya sebenarnya tidak begitu antusias Gibran nyalon sebagai wali kota. Tapi ini adalah politik. Dia berhak dan tidak ada yang melarang. Siapa pun boleh nyalon asalkan direstui oleh partai pengusung.

Ada juga yang bilang keberhasilan Gibran nyalon, pasti ada campur tangan dari Jokowi. Lah, kan katanya Jokowi dituding sebagai petugas partai.

Jokowi dihina tunduk pada partai. Apa mungkin Jokowi sekarang bisa mendikte dan menyetir partai untuk mengusung anaknya? Kan semua ini dari hasil rekomendasi ketum partai.
.
.
Sudah, tak usah nyindir apalagi nyinyir. Tidak senang tak usah pilih, tak ada pemaksaan. Lagian, kalau mereka dikasih jabatan juga takkan menolak. Hahaha.

Bagaimana menurut Anda?
.
(Kakak Pembina)

#OGO
#PilkadaSolo
#Gibran_Teguh

Terkait

Warganya Kesulitan Ekonomi Kepala Dusun Cuek Pengusaha Muda Turun Tangan Bantu Warga

Maret 1, 2021

  KOPI Jembrana – Kondisi Pandemi Covid-19 membuat banyak warga menjerit. Keadaan ekonomi yang sulit memunculkan tekanan psikologis masyarakat di mana-mana. Bencana kemanusiaan sedang...

Menhub Tinjau Tirtonadi, Gibran Tekankan Pembangunan Lantai 2 Terminal Akan Jadi Pusat Kegiatan Produktif

Februari 28, 2021

SOLO, - Menhub Tinjau Tirtonadi, Gibran Tekankan Pembangunan Lantai 2 Terminal Akan Jadi Pusat Kegiatan Produktif. Menhub Ir. Budi Karya Sumadi melakukan kunjungan kerja di Kota Solo, Minggu...

Hadiri Peresmian Hunian Sementara (HUNTARA) Desa Tumanggal Rofik Kembali Berikan Bantuan

Februari 28, 2021

  Purbalingga (28/02) - Anggota DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Rofik Hananto menghadiri acara peresmian Hunian Sementara (Huntara) yang terletak di Dusun Pagersari Desa...

Menhub Kunjungan di Solo, Gibran Minta Percepat Realisasi Elevasi Rel di Joglo

Februari 28, 2021

SOLO, - Menhub Kunjungan di Solo, Gibran Minta Percepat Realisasi Elevasi Rel di Joglo. Kunjungan Menhub Ir. Budi Karya Sumadi di Kota Solo, Minggu (28/2/2021) dimanfaatkan baik oleh jajaran Pemkot...

Gibran Salurkan 500 Paket Sembako ke DPP Pasoepati, Maryadi Gondrong: Kami Siap Dukung Kebijakan Olahraga

Februari 28, 2021

SOLO, -Gibran Salurkan 500 Paket Sembako ke DPP Pasoepati, Maryadi Gondrong: Kami Siap Dukung Kebijakan Olahraga . Gibran Rakabuming Raka menyambangi Sekretariat sementara DPP Pasoepati, di Laweyan....

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments