Warga Gilirejo Baru Miri Sragen Memanfaatkan Limbah Pertanian Untuk Pakan Ternak Sapi

Sel, 4 Feb 2020 11:12:25pm [update-viewer] author Berita Istana
Bagong di bantu putarannya Warga Gilirejo Baru Memanfaatkan Limbah Pertanian Untuk Pakan Ternak Sapi

Warga Gilirejo Baru Memanfaatkan Limbah Pertanian Untuk Pakan Ternak Sapi

Selasa 4 februari 2020 | Penulis ; Bowo | Editor ; Umy | Foto / Vidio Oleh ; Warsito

SRAGEN, BERITAistana.com– Bagong warga Desa Gilirejo Baru, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah, memulai karirnya dalam dunia peternakan sapi sejak tahun 2016.

Bagong menjelaskan di musim kemarau diwilayah Gilirejo Baru akan sedikit kesulitan untuk menemukan rerumputan hijau. Untuk itu jerami atau tebon jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak mereka.

Biaya pakan merupakan biaya tertinggi dalam kegiatan budidaya ternak sapi hampir 70 persen. Untuk mengurangi biaya pakan, pemanfaatan limbah pertanian merupakan salah satu langkah jitu untuk mengurangi biaya budidaya ternak mereka.

Pakan ternak memang umumnya dari hijauan. Pakan hijauan terdiri dari dua, yakni pakan hijauan segar dan pakan hijauan kering. Pakan hijauan segar biasanya diberikan ke ternak dalam bentuk segar, sedangkan pakan hijauan kering sudah dijadikan silase.

Indigofera merupakan pakan hijauan ternak yang biasanya diberikan dalam bentuk segar. tanaman legium, atau kolonjono khususnya indigofera merupakan salah satu pakan utama ternak yang kandungan proteinnya paling tinggi dan mudah untuk dikembangkan.

Tetapi sayangnya, tanaman indigofera ini kurang dimanfaatkan peternak. Mereka lebih senang menggunakan rumput yang sembarangan. Padahal indigofera kandungan nutrisinya hampir 24 persen dan sangat baik untuk pakan ternak. Sedangkan dari jenis rumput, yang terbaik adalah king grass (rumput raja) dan rumput odot.

Mas Bagong Sendiri Manfaatkan Limbah Pertanian Untuk di jadikan pakan ternak.

Namun di musim kemarau akan sedikit kesulitan untuk menemukan rerumputan. Untuk itu jerami dapat dan tebon dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pemerintah selalu menyarankan agar tidak membuang jerami/tebon tapi sebaiknya dikumpulkan lalu difermentasikan, sehingga dapat digunakan sebagai pakan ternak.

Mengapa disarankan untuk difermentasi? Karena dengan memfermentasi jerami lebih tahan tahan lama. Misalnya untuk pengawetan jerami. Jerami segar tidak akan awet hingga berbulan-bulan, sehingga harus dibuat silase.

Jadi jerami dipotong-potong, kemudian diberi cendawan ikat di dalam plastik. Tunggu hingga 3 minggu, baru siap diberikan ke sapi.

Bagong di bantu putranya Warga Gilirejo Baru Memanfaatkan Limbah Pertanian Untuk Pakan Ternak Sapi

Penerapan teknologi pembuatan pakan ada dua, yaitu: fisik dan bioprocessing. Untuk yang fisik biasanya, dipotong-potong (dicacah) lalu dihaluskan (ditepungkan). Sedangkan untuk yang bioprocessing dengan cara fermentasi (menggunakan jamur, cendawan, atau bakteri lainnya).

Bukan hanya jerami,tebon limbah ubi kayu dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi,tuturnya.

Pembuatan silase ubi kayu cukup mudah. Bahan yang dibutuhkan adalah 100 kg limbah ubi kayu (daun, batang dan kulit), 5 persen molases (tetes tebu), 2 persen starter EM4, dan 5-10 persen dedak. Alat yang dibutuhkan ember/drum plastik yang bertutup serta alat pencacah.

Proses pembuatannya adalah cacah limbah ubi kayu, lalu layukan selama 2 hari sampai kadar airnya berkurang 55 persen. Larutkan molases dengan EM4 dan aduk-aduk. Masukan cacahan tadi ke dalam ember/drum hingga tembal tumpukan 10 cm, lalu siram dengan larutan tadi serta taburi dedak.

Lakukan berulang kali sampai tumpukan di dalam ember/drum padat. Tutup ember/drum tersebut dan simpan di tempat teduh selama 3 minggu. Setelah 3 minggu, buka tutupnya dan silase ubi kayu tersebut diangin-anginkan sebelum diberikan ke ternak sapi.

Dengan memanfaatkan limbah pertanian tersebut, tentu memiliki beberapa keuntungan. Bobot badan sapi meningkat serta menghemat biaya pakan. Dari hasil penelitian, sapi yang diberi silase limbah ubi kayu akan mengalami peningkatan bobot sebanyak 41-50 gram per ekor per hari. Apabila dikalkulasikan dalam sebulan (dikalikan 30 hari) akan mengalami peningkatan sekitar 1-2 kg per ekornya.

Menghemat biaya pakan. Limbah-limbah pertanian selama ini gratis, jadi hanya mengeluarkan biaya untuk molases dan dedak. Dari hasil perhitungan, peternak akan mengehamat Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu per hari untuk pakan hijauan.

Share this :

Baja Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed

[bigthumb]
[bigthumb]

Diduga Putus Cinta, Pemuda Sayur Matua Cari Jalan Pintas

Sab, 22 Feb 2020 06:25:57pm [myexcerpt]
[bigthumb]
[bigthumb]

Monitoring Komisi A DPRD Palas, Disambut Panitia SKD CPNS

Sab, 22 Feb 2020 03:30:44pm [myexcerpt]
[bigthumb]
[bigthumb]

Ganjar Lepas Ekspor 10 Bus Tingkat ke Bangladesh

Sab, 22 Feb 2020 09:44:40am [myexcerpt]
[bigthumb]

Dankodiklatau Lantik 480 Bintara Baru TNI AU

Jum, 21 Feb 2020 01:21:46pm [myexcerpt]
[bigthumb]

Ini Pesan Dandim Solo di Acara Talk Show MTA TV

Jum, 21 Feb 2020 01:12:40pm [myexcerpt]
[bigthumb]

Berita Terbaru

International

Fokus

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.

Visitor